“Udahan
yuk ngerjain skripsinya!” teriak Bintang sambil mendobrak meja belajar miliknya
hingga mengagetkan kedua temannya yang sedang mengerjakan skripsi di atas
karpet kamar tidur Bintang.
“Kamu
kenapa sih? Nggak pakai teriak bisa?” tanya salah satu temannya yang bernama Karin.
Ia kesal karena teriakan Bintang cukup membuat telinganya sakit.
“Iya
kamu kenapa sih? Kusut banget mukanya dari tadi. Ini aja baru mulai, malah mau
ngajakin udahan kan masih banyak yang mau direvisi.” Ara, salah satu temannya
yang lain melanjutkan bertanya seolah mengerti bahwa Bintang sedang dilanda
kerumitan pikiran.
“Lagi
badmood, tapi nggak tau kenapa.” Bintang
berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Ayolah,
cerita aja sama kita. Kamu ada masalah apa?” Ara mencoba merayu Bintang agar
mau bercerita tentang masalahnya.
“Bukan
masalah besar sih. Sebenernya aku gelisah” Bintang mulai menjawab jujur.
“Gelisah
kenapa?” tanya Ara semakin penasaran.
“Aku
tau, kamu gelisah karena belum bisa move
on dari Tristan ya?” Ara menebak sekenanya.
Tristan
adalah mantan pacar Bintang satu-satunya. Bintang mulai berpacaran dengan Tristan
saat kelas 3 SMA hingga kuliah semester 5. Saat akan memasuki perguruan tinggi,
mereka berdua memilih jurusan yang sama yaitu jurusan Ekonomi Manajemen di
Universitas Trisakti. Saat ini Bintang sudah semester 8. Tiga setengah tahun
berpacaran adalah waktu yang cukup lama baginya, ia amat bersusah payah untuk
bisa melupakan Tristan. Kabarnya Tristan mengakhiri hubungannya dengan Bintang
dikarenakan orang tua Tristan tidak setuju dengan Bintang yang orang tuanya
lebih kaya raya dibanding dengan orang tua Tristan. Keluarga Tristan gengsi
apabila memiliki menantu wanita yang lebih kaya dibanding dengan keluarganya.
“Eeh
enggaklah, aku udah lupa kok sama Tristan. Aku gelisah karena aku nggak bisa
jatuh cinta lagi sepertinya,” jawab Bintang dengan nada yang lesu sambil
meremas-remas kertas yang telah ia coret-coret sebelumnya.
“Kamu
yakin udah lupa sama Tristan? Kamu pasti bisa jatuh cinta lagi kalau memang
udah nggak ada masa lalu yang masih nyangkut di hati kamu.” Ara curiga kalau Bintang
masih belum bisa melupakan Tristan.
“Aku
yakin, aku udah anggap Tristan teman biasa. Yang jadi masalahnya adalah
sekarang aku nggak bisa jatuh cinta, padahal aku pengin jatuh cinta. Entah
rasanya hati ku kosong, berulang kali aku coba untuk jatuh cinta, tapi nihil.” Bintang
menjelaskan apa yang ia gelisahkan sedari tadi.
“Hmm
sama Bin, aku juga nggak bisa jatuh cinta.” Karin yang sedari tadi tidak
menanggapi kegelisahan Bintang ternyata juga memendam kegelisahan yang sama.
“Padahal
udah mau wisuda, penginnya sih ada pendamping saat wisuda kayak Ara nanti.” Bintang melanjutkan keluhannya yang
sepertinya sudah lama ia pendam.
Ara
memang sudah bertunangan dengan pacarnya yang bernama Lintang sebulan yang lalu.
Jadi nanti saat wisuda, Ara bukan hanya didampingi keluarganya tetapi juga calon
suaminya. Sedangkan Karin sama nasibnya dengan Bintang, sama-sama menjomblo akibat terlalu sibuk dengan
penelitian dan skripsinya. Mereka berdua lupa bahwa target saat wisuda bukan
hanya sekedar IPK cumlaude dan lulus cepat, tetapi juga perlu pendamping saat
wisuda.
Di
dalam benak mereka, saat mulai memasuki dunia kerja bukanlah saatnya lagi untuk
mencari cinta. Karier yang sukses adalah puncak tujuan mereka saat sudah
memasuki dunia kerja.
Bintang
dan Karin menggalau bersama di dalam kamar ber-AC yang berantakan penuh dengan
kertas-kertas, laptop berjejer tiga di atas karpet beludru hijau, dan tumpukan
skripsi yang berserakan di atas kasur Bintang. Mereka tak hanya menggalaui
skripsi yang yang selalu direvisi, tetapi juga galau mengenai siapa calon
pendamping di masa depannya. Sedangkan Ara hanya diam menatap mereka berdua
sambil menyusun kata-kata agar tidak salah bicara.
“Cinta
kan memang nggak bisa dipaksakan, nanti ada saatnya hati kita jatuh kepada seseorang
yang benar-benar ditakdirkan untuk kita.” Ara menepuk pundak mereka berdua agar
segera tersadar dari kegalauannya.
Tetapi
hening, tak ada tanggapan dari mereka berdua. Ara menghela napas, kemudian
melanjutkan bicaranya.
“Hm,
nanti kalian pasti ketemu sama seseorang yang bisa buat kalian jatuh cinta,
cuma soal waktu. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti kalau kalian udah siap. Sekarang
kalian menganggap bahwa diri kalian sudah siap jatuh cinta, padahal sebenaranya
kalian masih belum siap karena takut. Tuhan nggak akan ngasih kita jodoh kalau
kita takut menyambut sang jodoh. Takut dalam arti takut patah hati, takut nggak
bisa melengkapi, takut dia nggak cocok sama kita, dan takut sama bayang-bayang
masa lalu yang akan terulang lagi.” Ara mencoba menjelasakan nasehatnya panjang
lebar, berharap supaya mereka berdua tidak gelisah lagi.
“Iya
aku ngerti. Sekarang tugasku cuma mempersiapkan diri dan menunggu siapa yang
bakal buat aku jatuh hati. Kamu beruntung ya, jodohmu udah datang sendiri tanpa
perlu kamu tunggu.” Bintang masih iri kepada Ara.
“Iya,
kamu beruntung. Kalian saling jatuh cinta. Sedangkan aku nggak pernah pacaran
sama sekali, selalu bertepuk sebelah tangan, sampai akhirnya aku takut dan nggak
bisa jatuh cinta lagi. ” Karin bertopang dagu sambil menatap wajah Ara.
“Kalian
salah, awalnya aku nggak suka bahkan bisa dibilang benci sama Lintang, tapi
lama-kelamaan berubah jadi suka-sayang-cinta. Entah kenapa rasa benci sama
cinta beda tipis waktu itu. Tapi asal kalian tau, aku nggak pernah merasa takut
kehilangan Lintang. Kalau takdirnya berjodoh sama aku, meskipun dia pergi jauh
pasti akan ketemu lagi. Selama ini aku sepenuhnya percaya sama dia sampai
akhirnya dia serius sama aku. Aku bahkan nggak nyangka secepat itu dia melamar
ku.” Suasana kamar Bintang kembali hening. Mereka berdua tidak menanggapi
kata-kata Ara. Tetapi Ara yakin, mereka berdua pasti sedang mencerna apa yang
ia katakan. Ara terdiam sejenak, kembali menghela napas, merasa bingung dengan
keadaan yang canggung itu.
“Ayo
dong lanjutin ngerjain skripsinya, biar kita bisa wisuda bareng.” Ara menepuk
kedua pundak mereka, menyemangati, kemudian mengalihkan pembicaraan supaya
skripsi mereka rampung direvisi siang itu.
“Eh
tapi aku tetap nggak bisa fokus ngerjain skripsi hari ini.” Bintang menjawab
lunglai.
“Aku
juga nggak fokus,” lanjut Karin.
“Jadi
solusinya gimana?” tanya Ara bingung.
“Gimana
kalau besok kita liburan?” Bintang mengeluarkan ide bulusnya sambil tersenyum
meyakinkan kedua temannya.
“Setuju!”
teriak Karin mantap.
“Aku
nggak setuju! Kita kan harus revisi biar cepet kelar skripsinya, malah
ditinggal liburan.” Ara memalingkan wajah ke arah laptopnya.
“Ayo
lah ra, seminggu aja. Kamu bisa ngerjain revisi hari ini, besok pagi kamu ke
kampus untuk nyerahin revisian ke dosen. Kalau aku sih nanti aja setelah
liburan nyerahinnya.” Bintang memaksa Ara agar mau diajak liburan.
“Gila,
gampang banget ya kalau ngomong. Seminggu? Lama banget sih, memang mau liburan
kemana?” tanya Ara penasaran. Ia sepertinya sudah mulai luluh karena mendengar
saran dari Bintang.
“Gimana
kalau kita ke Jogja?” Bintang berdiri sambil mengacungkan telunjuknya.
“Ide
bagus itu!” Karin tertarik dengan lokasi liburannya. Sedangkan Ara hanya diam,
tidak menanggapi ide Bintang.
“Mau
kan ra? nanti aku yang bayarin penginapan hotelnya deh. Tapi transportasi bayar
sendiri.” Bintang memang seorang anak tunggal yang terlahir dari keluarga kaya,
sehingga membayar penginapan untuk 3 orang selama seminggu bukanlah masalah
baginya. Kemudian Bintang mendekati bahu kiri Ara supaya dapat melihat
ekspresinya dengan jelas. Sejenak Ara
berhenti mengetik skripsinya. Kelihatannya, Ara mulai tertarik atau mungkin ia
hanya sedang berpikir apa yang selanjutnya akan diketik.
“Transportasinya
kok bayar sendiri? Memang kita kesana nggak naik mobil pribadi?” tanya Karin
penasaran karena biasanya mereka bertiga selalu pergi kemanapun dengan
menggunakan mobil Karin atau mobil Bintang. Sedangkan Ara yang notabene-nya adalah anak rantau dari
Lampung yang ngekost di Jakarta, selalu ikut kemana saja dengan mereka berdua.
“Jadi
begini, kita ke Jogja nggak naik mobil pribadi tapi naik transportasi umum. Yah
mungkin bisa naik bus atau kereta api. Eh tapi nggak boleh naik pesawat ya.” Bintang
menerangkan rencananya.
“Oh
gitu, naik kereta api seru tuh kayaknya. Tumben ide mu asyik, biasanya kan
garing.” Karin seolah tak percaya dengan ide Bintang, karena mentok-mentok ide
liburan Bintang paling hanya pergi ke mall, kafe, bioskop, atau taman kota
untuk sekedar hunting foto.
Ara
masih saja terdiam, bibirnya terkatup rapat. Matanya fokus ke arah laptopnya.
Tangannya sibuk mengetik beberapa kalimat untuk skripsinya.
Karin
melambaikan tangan di depan wajah Ara supaya membuyarkan tatapan fokus yang
sedari tadi tertuju ke layar laptopnya. “Jadi gimana, kamu masih belum tertarik
ya? Kamu sibuk ngetik mulu dari tadi.” Seketika itu Ara langsung menghentikan
tangannya yang sibuk mengetik kalimat demi kalimat.
“Ya
ini aku lagi lembur revisi biar besok pagi bisa diserahin ke dosen.” Ara
menjawab sepotong.
“Jadi
artinya kamu jadi ikut liburan?” Bintang memelototi Ara, senyumnya hampir
mengembang.
“Iya.”
Ara menjawab singkat. Tetapi itu sudah cukup membuat Bintang dan Karin
bersorak.
“Eh
memangnya kamu tau tempat wisata disana apa aja Bin? Kalau kita pakai
transportasi umum memangnya nggak repot?” Akhirnya Ara mulai bicara,
mengungkapkan keraguannya. Ternyata diam-diam Ara mendengarkan Bintang dan Karin
bicara.
“Hm,
nggak tau sih. Tapi kita bisa browsing
dulu di internet untuk cari tau lokasi wisata yang bisa dijangkau transportasi
umum.” Bintang bergegas mengambil handphone-nya
yang tergeletak di atas kasur. Meng-klik menu browser dan segera searching
tempat wisata di Jogja.
Ara
hanya mengangguk, menunjukkan bahwa ia meng-iya-kan semua ide Bintang. Ara
kembali sibuk mengetik di laptop nya, sedangkan Karin juga mengambil handphone di saku celananya-mengikuti Bintang
yang sedang sibuk browsing mengenai
tempat wisata di Jogja. Bintang dan Karin lupa akan kegelisahannya mengenai
cinta, mereka sibuk dengan rencana liburannya esok.
Malamnya
Bintang pergi ke Indomaret untuk memesan tiket kereta Stasiun Grogol (Jakarta
Barat) – Tugu Jogja (Yogyakarta). Sialnya Bintang kehabisan tiket kereta eksekutif
- untungnya masih ada 3 tiket terakhir menuju stasiun Tugu Jojga - meskipun
kereta yang dipesan hanya tiket kereta ekonomi AC dengan jadwal keberangkatan yang
tersisa adalah pukul 09.00 WIB.



0 komentar:
Post a Comment