Saturday, 4 June 2016

LONG JOURNEY (Bagian satu: Mati rasa)



Untuk alasan yang tak dimengerti, Bintang merasa gelisah siang ini. Biasanya gadis manja yang berdagu belah ini selalu semangat mengerjakan revisian skripsinya, tapi tidak kali ini. Mendadak ia begitu murung, hanya mencoret-coret kertas di meja belajarnya, dan membiarkan laptopnya menyala tanpa disentuh.
“Udahan yuk ngerjain skripsinya!” teriak Bintang sambil mendobrak meja belajar miliknya hingga mengagetkan kedua temannya yang sedang mengerjakan skripsi di atas karpet kamar tidur Bintang.
“Kamu kenapa sih? Nggak pakai teriak bisa?” tanya salah satu temannya yang bernama Karin. Ia kesal karena teriakan Bintang cukup membuat telinganya sakit.
“Iya kamu kenapa sih? Kusut banget mukanya dari tadi. Ini aja baru mulai, malah mau ngajakin udahan kan masih banyak yang mau direvisi.” Ara, salah satu temannya yang lain melanjutkan bertanya seolah mengerti bahwa Bintang sedang dilanda kerumitan pikiran.
“Lagi badmood, tapi nggak tau kenapa.” Bintang berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Ayolah, cerita aja sama kita. Kamu ada masalah apa?” Ara mencoba merayu Bintang agar mau bercerita tentang masalahnya.
“Bukan masalah besar sih. Sebenernya aku gelisah” Bintang mulai menjawab jujur.
“Gelisah kenapa?” tanya Ara semakin penasaran.
“Aku tau, kamu gelisah karena belum bisa move on dari Tristan ya?” Ara menebak sekenanya.
Tristan adalah mantan pacar Bintang satu-satunya. Bintang mulai berpacaran dengan Tristan saat kelas 3 SMA hingga kuliah semester 5. Saat akan memasuki perguruan tinggi, mereka berdua memilih jurusan yang sama yaitu jurusan Ekonomi Manajemen di Universitas Trisakti. Saat ini Bintang sudah semester 8. Tiga setengah tahun berpacaran adalah waktu yang cukup lama baginya, ia amat bersusah payah untuk bisa melupakan Tristan. Kabarnya Tristan mengakhiri hubungannya dengan Bintang dikarenakan orang tua Tristan tidak setuju dengan Bintang yang orang tuanya lebih kaya raya dibanding dengan orang tua Tristan. Keluarga Tristan gengsi apabila memiliki menantu wanita yang lebih kaya dibanding dengan keluarganya.
“Eeh enggaklah, aku udah lupa kok sama Tristan. Aku gelisah karena aku nggak bisa jatuh cinta lagi sepertinya,” jawab Bintang dengan nada yang lesu sambil meremas-remas kertas yang telah ia coret-coret sebelumnya.
“Kamu yakin udah lupa sama Tristan? Kamu pasti bisa jatuh cinta lagi kalau memang udah nggak ada masa lalu yang masih nyangkut di hati kamu.” Ara curiga kalau Bintang masih belum bisa melupakan Tristan.
“Aku yakin, aku udah anggap Tristan teman biasa. Yang jadi masalahnya adalah sekarang aku nggak bisa jatuh cinta, padahal aku pengin jatuh cinta. Entah rasanya hati ku kosong, berulang kali aku coba untuk jatuh cinta, tapi nihil.” Bintang menjelaskan apa yang ia gelisahkan sedari tadi.
“Hmm sama Bin, aku juga nggak bisa jatuh cinta.” Karin yang sedari tadi tidak menanggapi kegelisahan Bintang ternyata juga memendam kegelisahan yang sama.
“Padahal udah mau wisuda, penginnya sih ada pendamping saat wisuda kayak Ara nanti.”             Bintang melanjutkan keluhannya yang sepertinya sudah lama ia pendam.
Ara memang sudah bertunangan dengan pacarnya yang bernama Lintang sebulan yang lalu. Jadi nanti saat wisuda, Ara bukan hanya didampingi keluarganya tetapi juga calon suaminya. Sedangkan Karin sama nasibnya dengan Bintang, sama-sama menjomblo akibat terlalu sibuk dengan penelitian dan skripsinya. Mereka berdua lupa bahwa target saat wisuda bukan hanya sekedar IPK cumlaude dan lulus cepat, tetapi juga perlu pendamping saat wisuda.
Di dalam benak mereka, saat mulai memasuki dunia kerja bukanlah saatnya lagi untuk mencari cinta. Karier yang sukses adalah puncak tujuan mereka saat sudah memasuki dunia kerja.
Bintang dan Karin menggalau bersama di dalam kamar ber-AC yang berantakan penuh dengan kertas-kertas, laptop berjejer tiga di atas karpet beludru hijau, dan tumpukan skripsi yang berserakan di atas kasur Bintang. Mereka tak hanya menggalaui skripsi yang yang selalu direvisi, tetapi juga galau mengenai siapa calon pendamping di masa depannya. Sedangkan Ara hanya diam menatap mereka berdua sambil menyusun kata-kata agar tidak salah bicara.
“Cinta kan memang nggak bisa dipaksakan, nanti ada saatnya hati kita jatuh kepada seseorang yang benar-benar ditakdirkan untuk kita.” Ara menepuk pundak mereka berdua agar segera tersadar dari kegalauannya.
Tetapi hening, tak ada tanggapan dari mereka berdua. Ara menghela napas, kemudian melanjutkan bicaranya.
“Hm, nanti kalian pasti ketemu sama seseorang yang bisa buat kalian jatuh cinta, cuma soal waktu. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti kalau kalian udah siap. Sekarang kalian menganggap bahwa diri kalian sudah siap jatuh cinta, padahal sebenaranya kalian masih belum siap karena takut. Tuhan nggak akan ngasih kita jodoh kalau kita takut menyambut sang jodoh. Takut dalam arti takut patah hati, takut nggak bisa melengkapi, takut dia nggak cocok sama kita, dan takut sama bayang-bayang masa lalu yang akan terulang lagi.” Ara mencoba menjelasakan nasehatnya panjang lebar, berharap supaya mereka berdua tidak gelisah lagi.
“Iya aku ngerti. Sekarang tugasku cuma mempersiapkan diri dan menunggu siapa yang bakal buat aku jatuh hati. Kamu beruntung ya, jodohmu udah datang sendiri tanpa perlu kamu tunggu.” Bintang masih iri kepada Ara.
“Iya, kamu beruntung. Kalian saling jatuh cinta. Sedangkan aku nggak pernah pacaran sama sekali, selalu bertepuk sebelah tangan, sampai akhirnya aku takut dan nggak bisa jatuh cinta lagi. ” Karin bertopang dagu sambil menatap wajah Ara.
“Kalian salah, awalnya aku nggak suka bahkan bisa dibilang benci sama Lintang, tapi lama-kelamaan berubah jadi suka-sayang-cinta. Entah kenapa rasa benci sama cinta beda tipis waktu itu. Tapi asal kalian tau, aku nggak pernah merasa takut kehilangan Lintang. Kalau takdirnya berjodoh sama aku, meskipun dia pergi jauh pasti akan ketemu lagi. Selama ini aku sepenuhnya percaya sama dia sampai akhirnya dia serius sama aku. Aku bahkan nggak nyangka secepat itu dia melamar ku.” Suasana kamar Bintang kembali hening. Mereka berdua tidak menanggapi kata-kata Ara. Tetapi Ara yakin, mereka berdua pasti sedang mencerna apa yang ia katakan. Ara terdiam sejenak, kembali menghela napas, merasa bingung dengan keadaan yang canggung itu.
“Ayo dong lanjutin ngerjain skripsinya, biar kita bisa wisuda bareng.” Ara menepuk kedua pundak mereka, menyemangati, kemudian mengalihkan pembicaraan supaya skripsi mereka rampung direvisi siang itu.
“Eh tapi aku tetap nggak bisa fokus ngerjain skripsi hari ini.” Bintang menjawab lunglai.
“Aku juga nggak fokus,” lanjut Karin.
“Jadi solusinya gimana?” tanya Ara bingung.
“Gimana kalau besok kita liburan?” Bintang mengeluarkan ide bulusnya sambil tersenyum meyakinkan kedua temannya.
“Setuju!” teriak Karin mantap.
“Aku nggak setuju! Kita kan harus revisi biar cepet kelar skripsinya, malah ditinggal liburan.” Ara memalingkan wajah ke arah laptopnya.
“Ayo lah ra, seminggu aja. Kamu bisa ngerjain revisi hari ini, besok pagi kamu ke kampus untuk nyerahin revisian ke dosen. Kalau aku sih nanti aja setelah liburan nyerahinnya.” Bintang memaksa Ara agar mau diajak liburan.
“Gila, gampang banget ya kalau ngomong. Seminggu? Lama banget sih, memang mau liburan kemana?” tanya Ara penasaran. Ia sepertinya sudah mulai luluh karena mendengar saran dari Bintang.
“Gimana kalau kita ke Jogja?” Bintang berdiri sambil mengacungkan telunjuknya.
“Ide bagus itu!” Karin tertarik dengan lokasi liburannya. Sedangkan Ara hanya diam, tidak menanggapi ide Bintang.
“Mau kan ra? nanti aku yang bayarin penginapan hotelnya deh. Tapi transportasi bayar sendiri.” Bintang memang seorang anak tunggal yang terlahir dari keluarga kaya, sehingga membayar penginapan untuk 3 orang selama seminggu bukanlah masalah baginya. Kemudian Bintang mendekati bahu kiri Ara supaya dapat melihat ekspresinya dengan jelas.  Sejenak Ara berhenti mengetik skripsinya. Kelihatannya, Ara mulai tertarik atau mungkin ia hanya sedang berpikir apa yang selanjutnya akan diketik.
“Transportasinya kok bayar sendiri? Memang kita kesana nggak naik mobil pribadi?” tanya Karin penasaran karena biasanya mereka bertiga selalu pergi kemanapun dengan menggunakan mobil Karin atau mobil Bintang. Sedangkan Ara yang notabene-nya adalah anak rantau dari Lampung yang ngekost di Jakarta, selalu ikut kemana saja dengan mereka berdua.
“Jadi begini, kita ke Jogja nggak naik mobil pribadi tapi naik transportasi umum. Yah mungkin bisa naik bus atau kereta api. Eh tapi nggak boleh naik pesawat ya.” Bintang menerangkan rencananya.
“Oh gitu, naik kereta api seru tuh kayaknya. Tumben ide mu asyik, biasanya kan garing.” Karin seolah tak percaya dengan ide Bintang, karena mentok-mentok ide liburan Bintang paling hanya pergi ke mall, kafe, bioskop, atau taman kota untuk sekedar hunting foto.
Ara masih saja terdiam, bibirnya terkatup rapat. Matanya fokus ke arah laptopnya. Tangannya sibuk mengetik beberapa kalimat untuk skripsinya.
Karin melambaikan tangan di depan wajah Ara supaya membuyarkan tatapan fokus yang sedari tadi tertuju ke layar laptopnya. “Jadi gimana, kamu masih belum tertarik ya? Kamu sibuk ngetik mulu dari tadi.” Seketika itu Ara langsung menghentikan tangannya yang sibuk mengetik kalimat demi kalimat.
“Ya ini aku lagi lembur revisi biar besok pagi bisa diserahin ke dosen.” Ara menjawab sepotong.
“Jadi artinya kamu jadi ikut liburan?” Bintang memelototi Ara, senyumnya hampir mengembang.
“Iya.” Ara menjawab singkat. Tetapi itu sudah cukup membuat Bintang dan Karin bersorak.
“Eh memangnya kamu tau tempat wisata disana apa aja Bin? Kalau kita pakai transportasi umum memangnya nggak repot?” Akhirnya Ara mulai bicara, mengungkapkan keraguannya. Ternyata diam-diam Ara mendengarkan Bintang dan Karin bicara.
“Hm, nggak tau sih. Tapi kita bisa browsing dulu di internet untuk cari tau lokasi wisata yang bisa dijangkau transportasi umum.” Bintang bergegas mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas kasur. Meng-klik menu browser dan segera searching tempat wisata di Jogja.


Ara hanya mengangguk, menunjukkan bahwa ia meng-iya-kan semua ide Bintang. Ara kembali sibuk mengetik di laptop nya, sedangkan Karin juga mengambil handphone di saku celananya-mengikuti Bintang yang sedang sibuk browsing mengenai tempat wisata di Jogja. Bintang dan Karin lupa akan kegelisahannya mengenai cinta, mereka sibuk dengan rencana liburannya esok.
Malamnya Bintang pergi ke Indomaret untuk memesan tiket kereta Stasiun Grogol (Jakarta Barat) – Tugu Jogja (Yogyakarta). Sialnya Bintang kehabisan tiket kereta eksekutif - untungnya masih ada 3 tiket terakhir menuju stasiun Tugu Jojga - meskipun kereta yang dipesan hanya tiket kereta ekonomi AC dengan jadwal keberangkatan yang tersisa adalah pukul 09.00 WIB.

0 komentar:

Post a Comment