Saturday, 4 June 2016

LONG JOURNEY (Bagian dua: Berbohong)

Pagi ini pukul 07.00 WIB, awan kelabu menggantung-seolah siap menumpahkan hujan lebat di kota metropolitan-yang pasti akan mengganggu para penghuninya apabila benar hujan akan tumpah di senin pagi yang super sibuk itu. Terutama bagi ketiga sahabat pejuang skripsi yang sudah memiliki rencana matang akan pergi pagi ini. Mereka penat akan peliknya dunia kampus hingga memaksa mereka untuk pergi melibur di hari kerja. Ketiga mahasiswi tingkat akhir itu memang sudah tak ada tanggungan kuliah lagi, meskipun begitu ada momok yang lebih besar ketimbang kuliah yaitu “skripsi”. Harapan mereka, dengan sejenak liburan bisa me-refresh otak yang sudah kadung buntu.
Dering handphone yang ke-tujuh memaksa Bintang untuk membuka matanya. Rambut panjang yang tergerai menutupi wajahnya, ia sibakkan ke belakang. Cukup lama ia terduduk di tepi ranjang untuk sekedar mengumpulkan nyawanya yang sempat pergi entah kemana semalam. Dengan malas ia berjalan mengambil handphone yang sedang bedering di atas meja belajarnya.   
“Hallo….” Bintang kembali memejamkan mata saat mengangkat telepon. Ia tak sempat melihat di layar mengenai siapa yang menelepon.
“Hallo Bintang, kereta berangkat jam berapa?”
“Oh ini Ara ya, kan aku udah bilang tadi malam kalau kita berangkat jam 9 pagi dari Stasiun Grogol.” Bintang mencoba menjelaskan sambil menguap tanda masih mengantuk.
What!! Kamu kenapa baru bilang sama aku? Aku udah janji sama dosen pembimbing mau ketemu jam setengah 9 pagi, yah itupun kalau beliau datang tepat waktu,” tanya Ara setengah berteriak menunjukkan kepanikannya.
“Loh, aku kan udah bilang sama Karin berangkat jam 9 pagi. Aku suruh dia untuk bilang ke kamu.”
“Karin nggak kasih kabar apa-apa tuh semalam,” jawab Ara dengan kesal.
“Oh mungkin dia lupa. Semalam aku telepon kamu-tapi hp mu nggak aktif-jadi aku suruh Karin yang ngasih tau kamu. Maaf ya,” jawab Bintang merasa bersalah.
“Iya deh, ya udah aku siap-siap ke kampus dulu mau nyerahin revisian.”
“Oke sukses unt…..” belum selesai Bintang menyemangati, Ara sudah menutup teleponnya terlebih dahulu. Ia kesal dengan Karin, karena pesannya tidak disampaikan ke Ara. Ia berniat untuk mengocehi Karin saat bertemu di stasiun nanti.
 Selepas mengangkat telepon dari Ara, Bintang menyempatkan diri untuk melihat layar handphone-nya sebelum pergi ke kamar mandi. Di layar, terlihat 6 pemberitahuan panggilan tak terjawab dari Ara, dan 2 pesan masuk. Ia buka pesan pertama yang pengirimnya adalah nomor tidak dikenal.


Sender: 085xxxxxxxxx
“Apa kabar Bintang Senjani? Hari ini aku wisuda. Kalau nggak keberatan, kamu nanti malam datang ya ke rumahku untuk sekedar ikut acara perayaan hari kelulusanku. Ajak teman-teman kamu juga ya, Ara sama Karin. Thanks. By: Tristan”

Cukup lama Bintang menatap layar, ia baca berulang kali pesan dari Tristan. Ia sempat bingung, karena hari ini ia sudah ada rencana akan pergi liburan bersama kedua sahabatnya. Namun akhirnya Bintang tak membalas pesan dari Tristan. Ia tak ingin membatalkan acara liburannya yang sempat tak disetujui oleh Ara.
“Hmm Tristan Aryawicaksana, S.E. Ternyata Tristan lebih dulu mendapat gelar sarjana daripada aku. Selamat ya….” Bintang hanya menggumam pelan.

Di dalam hati kecilnya, ia sempat ingin mengingat kembali masa-masa pacaran dengan Tristan. Tetapi segera ia tepis agar tidak berlarut-larut mengingat masa lalunya yang sekarang sudah ia lupakan, katanya. Ia melanjutkan untuk membuka pesan kedua yang nama pengirimnya sudah tak asing baginya.

Sender: Hiro
“Bintang hari ini kita jadi ke perusahaan untuk nyerahin kuisioner skripsi kita kan? Kita ketemuan di kampus dulu ya jam 9 pagi.”

Hiro adalah teman sekelasnya yang sudah 3 bulan terakhir ini tak pernah absen untuk mengirim pesan setiap hari barang sekali-dua kali. Hiro memang satu tim penelitian dengan Bintang sejak 3 bulan yang lalu, mereka sering bekerjasama, berdiskusi, dan sesekali bertemu untuk membahas mengenai topik skripsi mereka. Bagi mereka, selalu ada saja topik pembicaraan yang dibahas apabila mereka tidak berjumpa di kampus.

Dan pagi ini, Bintang lupa kalau sudah ada janji dengan Hiro akan pergi ke perusahaan tempat penelitiannya berlangsung.

“Maaf banget ya Hiro, aku nggak bisa hari ini. Mendadak ada urusan keluarga di Jogja selama seminggu. Kamu duluan aja nyerahin kuisionernya, minggu depan aku nyusul.”
Status: Delivered to Hiro

Bintang terpaksa berbohong kepada Hiro. Ia berpikiran bahwa pasti Hiro akan marah besar apabila mengetahui kalau ia liburan bersama teman-temannya selama seminggu.


Sender: Hiro
“Oke deh nggak apa-apa. Aku ke perusahaannya nunggu kamu pulang aja. Soalnya kan kita satu tim, kuisioner kita saling berkaitan. Kalau aku ngasih duluan, nanti takutnya kuisioner kamu terabaikan.”


            Bintang merasa bersalah saat membaca pesan kedua dari Hiro. Ia telah membohonginya, tetapi Hiro dengan ketidaktahuannya malah masih memikirkan bagaimana nasib kuisioner Bintang.

            “Maaf ya sekali lagi. Kamu baik banget, makasih ya..”
                                                                                                Status: Delivered to Hiro

            Pagi ini adalah pagi yang kacau bagi Bintang. Perihal Ara yang kesal karena tidak diberi kabar akan keberangkatan kereta, emosi Bintang yang belum tersampaikan kepada Karin, persoalan Tristan yang terabaikan sms-nya karena bingung akan hadir atau tidak ke pesta kelulusannya, serta kesalahan Bintang yang lupa akan janjinya dengan Hiro hingga akhirnya ia terpaksa membohonginya.
Pagi pukul 07.30 WIB, lengkap dengan awan kelabu yang akhirnya menumpahkan hujan lebatnya-membuat Bintang tak berniat lagi untuk mandi. Emosi nya hampir meletup. Tetapi ia tak ingin mengagalkan rencana keberangkatan liburannya pagi ini. Bagaimanapun pagi ini harus berangkat!
 Dengan langkah gontainya, Bintang menuju kamar mandi. Hanya 5 menit ia mandi, kemudian segera memilih baju yang akan dipakai, serta mengemasi baju yang akan ia masukkan ke dalam koper.
Pukul 08.00 WIB, Bintang sudah berdandan rapi mengenakan kaos berwarna putih dibalut dengan jaket berwarna biru muda dengan bawahan celana jeans berwarna hitam. Rambut panjang yang biasanya tergerai, kini diikat dengan tali rambut berwarna hitam, sebagian poni panjangnya ia sangkutkan di bagian belakang telinga. Ia bersiap menuju ruang makan sambil tangan kanan nya menggeret koper mini dan tangan kiri nya memegang sepatu kets. Di meja makan sudah ada Mama dan Papa nya yang sedari tadi menunggu Bintang selesai berdandan.
“Bintang kamu yakin mau pergi ke Jogja naik kereta? Kenapa tidak pakai mobil saja nak?” Mama nya khawatir karena ia tidak pernah sekalipun pergi menggunakan transportasi umum. Biasanya Bintang diantar sopir atau membawa kendaraan sendiri.
“Aku yakin Ma, tapi aku minta diantar Papa untuk pergi ke stasiun.” Bintang meyakinkan Mama nya sambil merogoh saku celana jeans nya, mengambil kunci mobil nya, kemudian diserahkannya kunci mobil itu ke Papa nya.
“Oh gitu, oke deh nanti Papa antar.” Papa nya mengusap pelan rambut Bintang, kemudian melanjutkan sarapannya.
Saat Bintang sedang menikmati roti bakarnya, handphone nya berdering.
“Hallo..”
“Hallo, kamu udah berangkat belum?” Karin berbicara dari ujung telepon.
“Aku lagi sarapan nih.” Bintang menjawab santai sambil mengecup jarinya yang terkena lelehan selai coklat.
“Buruan berangkat, jalanan macet nih.”
“Oke, sebentar lagi berangkat.” Bintang langsung menutup telepon nya.
Bintang melahap habis roti bakarnya dan segera mengajak Papa nya untuk mengantarkanya ke stasiun.



Pukul 08.30, hujan di kota itu sudah mulai reda. Bintang berlari kecil dari mobil menuju kanopi stasiun Grogol. Pandangan matanya langsung menjelajah seisi stasiun untuk mencari dimana Karin berada. Bintang berjalan menghampiri Karin yang ternyata sedang duduk di ruang tunggu.
“Hei Karin, udah lama kamu disini?” Bintang langsung duduk disebelah Karin, meletakkan kopernya di sebelah koper Karin.
“Lumayan.”
“Ara kemana?”
“Ara? Oh iya aku lupa semalam belum ngasih tau jadwal keberangkatan kereta. Maaf ya.” Karin baru sadar akan kesalahannya.
“Tadi pagi Ara telepon aku, dia kesal karena nggak dikasih tau jadwal keberangkatan kereta, padahal dia ada janji sama dosen pembimbing mau ketemu di kampus jam setengah 9 pagi.” Bintang menerocos panjang, menatap Karin dengan air muka yang kesal.
“Hah? Berarti sekarang lagi nemuin dosen ya? Maaf banget ya Bin.” Karin memegang tangan Bintang supaya dimaafkan.
“Kalau dia ketinggalan kereta gimana?” Bintang melepas genggaman tangan Karin.
“Maaf…” Karin merasa sangat bersalah. Ia mengambil handphone dari dalam tas nya dan segera menelepon Ara. Berulang kali ia menelepon Ara, tetapi tak kunjung diangkat.
Tiba-tiba sosok Ara muncul menghampiri Bintang dan Karin yang sedang takut kalau Ara tidak jadi ikut liburan.
“Kamu udah ketemu dosen pembimbing? Kok cepet banget? Skripsi nya masih direvisi lagi nggak?” Bintang langsung menjejali banyak pertanyaan saat Ara datang.
“Huh, tadi dosen pembimbing ku tiba-tiba batalin janji, pagi ini harus terbang ke Surabaya karena mertua nya sakit. Entah berapa lama beliau disana.” Ara menjawab lesu.
Karin berdiri menepuk pundak Ara yang belum duduk di kursi ruang tunggu. “Sabar ya, kita liburan aja dulu.”
“Tenang aja, nanti kita bakal wisuda cepet kok nyusul si Tristan.” Bintang keceplosan menyebut nama Tristan di hadapan teman-temannya.
Sontak pernyataan Bintang membuat kaget teman-temannya. “Kamu bilang apa tadi? Tristan udah wisuda? Kapan?” Ara bertanya bertubi-tubi. “Iya kapan?” Karin ikut menimpali.
Agak kaku Bintang menjawab, “Hm, hari ini dia wisuda. Tadi pagi dia ngasih tau aku.” Ia lalu mengambil handphone di saku celana jeans nya. “Nih baca aja sendiri sms dari Tristan.”
“Wah, kita diduluin nih sama Tristan. Nggak lama dari hari ini, kita harus wisuda!” Ara tersulut semangatnya mendengar kabar bahwa teman sekelas nya sudah ada yang wisuda lebih dulu.
“Nggak usah panik gitu Ra. Katamu datangnya jodoh aja ada waktunya, nah sama aja kayak wisuda, cuma soal waktu.” Bintang meniru kata-kata yang sempat keluar dari bibir Ara kemarin.
“Eh iya.” Ara menjawab singkat sambil menggaruk kepala nya.
“Eh ngomong-ngomong sms dari Tristan kamu bales gimana? Kan kamu nggak bisa datang ke pestanya.” Karin mengotak-atik handphone Bintang, mencari pesan terkirim yang tertuju kepada Tristan.
“Hmm, aku nggak bales sms dari dia.” Bintang menjawab singkat pertanda ia tak ingin membahas Tristan lagi.  “Eeh udah mau berangkat tuh kereta api nya, kita kesana yuk.” Bintang mengajak teman-temannya berjalan menuju kereta api setelah mendengar suara tanda kereta api akan berangkat.

Karin menggumam pelan, “semoga liburan kali ini menyenangkan ya.” Ia berjalan di belakang mengikuti Bintang dan Ara yang sudah berjalan terlebih dahulu.

LONG JOURNEY (Bagian satu: Mati rasa)



Untuk alasan yang tak dimengerti, Bintang merasa gelisah siang ini. Biasanya gadis manja yang berdagu belah ini selalu semangat mengerjakan revisian skripsinya, tapi tidak kali ini. Mendadak ia begitu murung, hanya mencoret-coret kertas di meja belajarnya, dan membiarkan laptopnya menyala tanpa disentuh.
“Udahan yuk ngerjain skripsinya!” teriak Bintang sambil mendobrak meja belajar miliknya hingga mengagetkan kedua temannya yang sedang mengerjakan skripsi di atas karpet kamar tidur Bintang.
“Kamu kenapa sih? Nggak pakai teriak bisa?” tanya salah satu temannya yang bernama Karin. Ia kesal karena teriakan Bintang cukup membuat telinganya sakit.
“Iya kamu kenapa sih? Kusut banget mukanya dari tadi. Ini aja baru mulai, malah mau ngajakin udahan kan masih banyak yang mau direvisi.” Ara, salah satu temannya yang lain melanjutkan bertanya seolah mengerti bahwa Bintang sedang dilanda kerumitan pikiran.
“Lagi badmood, tapi nggak tau kenapa.” Bintang berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Ayolah, cerita aja sama kita. Kamu ada masalah apa?” Ara mencoba merayu Bintang agar mau bercerita tentang masalahnya.
“Bukan masalah besar sih. Sebenernya aku gelisah” Bintang mulai menjawab jujur.
“Gelisah kenapa?” tanya Ara semakin penasaran.
“Aku tau, kamu gelisah karena belum bisa move on dari Tristan ya?” Ara menebak sekenanya.
Tristan adalah mantan pacar Bintang satu-satunya. Bintang mulai berpacaran dengan Tristan saat kelas 3 SMA hingga kuliah semester 5. Saat akan memasuki perguruan tinggi, mereka berdua memilih jurusan yang sama yaitu jurusan Ekonomi Manajemen di Universitas Trisakti. Saat ini Bintang sudah semester 8. Tiga setengah tahun berpacaran adalah waktu yang cukup lama baginya, ia amat bersusah payah untuk bisa melupakan Tristan. Kabarnya Tristan mengakhiri hubungannya dengan Bintang dikarenakan orang tua Tristan tidak setuju dengan Bintang yang orang tuanya lebih kaya raya dibanding dengan orang tua Tristan. Keluarga Tristan gengsi apabila memiliki menantu wanita yang lebih kaya dibanding dengan keluarganya.
“Eeh enggaklah, aku udah lupa kok sama Tristan. Aku gelisah karena aku nggak bisa jatuh cinta lagi sepertinya,” jawab Bintang dengan nada yang lesu sambil meremas-remas kertas yang telah ia coret-coret sebelumnya.
“Kamu yakin udah lupa sama Tristan? Kamu pasti bisa jatuh cinta lagi kalau memang udah nggak ada masa lalu yang masih nyangkut di hati kamu.” Ara curiga kalau Bintang masih belum bisa melupakan Tristan.
“Aku yakin, aku udah anggap Tristan teman biasa. Yang jadi masalahnya adalah sekarang aku nggak bisa jatuh cinta, padahal aku pengin jatuh cinta. Entah rasanya hati ku kosong, berulang kali aku coba untuk jatuh cinta, tapi nihil.” Bintang menjelaskan apa yang ia gelisahkan sedari tadi.
“Hmm sama Bin, aku juga nggak bisa jatuh cinta.” Karin yang sedari tadi tidak menanggapi kegelisahan Bintang ternyata juga memendam kegelisahan yang sama.
“Padahal udah mau wisuda, penginnya sih ada pendamping saat wisuda kayak Ara nanti.”             Bintang melanjutkan keluhannya yang sepertinya sudah lama ia pendam.
Ara memang sudah bertunangan dengan pacarnya yang bernama Lintang sebulan yang lalu. Jadi nanti saat wisuda, Ara bukan hanya didampingi keluarganya tetapi juga calon suaminya. Sedangkan Karin sama nasibnya dengan Bintang, sama-sama menjomblo akibat terlalu sibuk dengan penelitian dan skripsinya. Mereka berdua lupa bahwa target saat wisuda bukan hanya sekedar IPK cumlaude dan lulus cepat, tetapi juga perlu pendamping saat wisuda.
Di dalam benak mereka, saat mulai memasuki dunia kerja bukanlah saatnya lagi untuk mencari cinta. Karier yang sukses adalah puncak tujuan mereka saat sudah memasuki dunia kerja.
Bintang dan Karin menggalau bersama di dalam kamar ber-AC yang berantakan penuh dengan kertas-kertas, laptop berjejer tiga di atas karpet beludru hijau, dan tumpukan skripsi yang berserakan di atas kasur Bintang. Mereka tak hanya menggalaui skripsi yang yang selalu direvisi, tetapi juga galau mengenai siapa calon pendamping di masa depannya. Sedangkan Ara hanya diam menatap mereka berdua sambil menyusun kata-kata agar tidak salah bicara.
“Cinta kan memang nggak bisa dipaksakan, nanti ada saatnya hati kita jatuh kepada seseorang yang benar-benar ditakdirkan untuk kita.” Ara menepuk pundak mereka berdua agar segera tersadar dari kegalauannya.
Tetapi hening, tak ada tanggapan dari mereka berdua. Ara menghela napas, kemudian melanjutkan bicaranya.
“Hm, nanti kalian pasti ketemu sama seseorang yang bisa buat kalian jatuh cinta, cuma soal waktu. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti kalau kalian udah siap. Sekarang kalian menganggap bahwa diri kalian sudah siap jatuh cinta, padahal sebenaranya kalian masih belum siap karena takut. Tuhan nggak akan ngasih kita jodoh kalau kita takut menyambut sang jodoh. Takut dalam arti takut patah hati, takut nggak bisa melengkapi, takut dia nggak cocok sama kita, dan takut sama bayang-bayang masa lalu yang akan terulang lagi.” Ara mencoba menjelasakan nasehatnya panjang lebar, berharap supaya mereka berdua tidak gelisah lagi.
“Iya aku ngerti. Sekarang tugasku cuma mempersiapkan diri dan menunggu siapa yang bakal buat aku jatuh hati. Kamu beruntung ya, jodohmu udah datang sendiri tanpa perlu kamu tunggu.” Bintang masih iri kepada Ara.
“Iya, kamu beruntung. Kalian saling jatuh cinta. Sedangkan aku nggak pernah pacaran sama sekali, selalu bertepuk sebelah tangan, sampai akhirnya aku takut dan nggak bisa jatuh cinta lagi. ” Karin bertopang dagu sambil menatap wajah Ara.
“Kalian salah, awalnya aku nggak suka bahkan bisa dibilang benci sama Lintang, tapi lama-kelamaan berubah jadi suka-sayang-cinta. Entah kenapa rasa benci sama cinta beda tipis waktu itu. Tapi asal kalian tau, aku nggak pernah merasa takut kehilangan Lintang. Kalau takdirnya berjodoh sama aku, meskipun dia pergi jauh pasti akan ketemu lagi. Selama ini aku sepenuhnya percaya sama dia sampai akhirnya dia serius sama aku. Aku bahkan nggak nyangka secepat itu dia melamar ku.” Suasana kamar Bintang kembali hening. Mereka berdua tidak menanggapi kata-kata Ara. Tetapi Ara yakin, mereka berdua pasti sedang mencerna apa yang ia katakan. Ara terdiam sejenak, kembali menghela napas, merasa bingung dengan keadaan yang canggung itu.
“Ayo dong lanjutin ngerjain skripsinya, biar kita bisa wisuda bareng.” Ara menepuk kedua pundak mereka, menyemangati, kemudian mengalihkan pembicaraan supaya skripsi mereka rampung direvisi siang itu.
“Eh tapi aku tetap nggak bisa fokus ngerjain skripsi hari ini.” Bintang menjawab lunglai.
“Aku juga nggak fokus,” lanjut Karin.
“Jadi solusinya gimana?” tanya Ara bingung.
“Gimana kalau besok kita liburan?” Bintang mengeluarkan ide bulusnya sambil tersenyum meyakinkan kedua temannya.
“Setuju!” teriak Karin mantap.
“Aku nggak setuju! Kita kan harus revisi biar cepet kelar skripsinya, malah ditinggal liburan.” Ara memalingkan wajah ke arah laptopnya.
“Ayo lah ra, seminggu aja. Kamu bisa ngerjain revisi hari ini, besok pagi kamu ke kampus untuk nyerahin revisian ke dosen. Kalau aku sih nanti aja setelah liburan nyerahinnya.” Bintang memaksa Ara agar mau diajak liburan.
“Gila, gampang banget ya kalau ngomong. Seminggu? Lama banget sih, memang mau liburan kemana?” tanya Ara penasaran. Ia sepertinya sudah mulai luluh karena mendengar saran dari Bintang.
“Gimana kalau kita ke Jogja?” Bintang berdiri sambil mengacungkan telunjuknya.
“Ide bagus itu!” Karin tertarik dengan lokasi liburannya. Sedangkan Ara hanya diam, tidak menanggapi ide Bintang.
“Mau kan ra? nanti aku yang bayarin penginapan hotelnya deh. Tapi transportasi bayar sendiri.” Bintang memang seorang anak tunggal yang terlahir dari keluarga kaya, sehingga membayar penginapan untuk 3 orang selama seminggu bukanlah masalah baginya. Kemudian Bintang mendekati bahu kiri Ara supaya dapat melihat ekspresinya dengan jelas.  Sejenak Ara berhenti mengetik skripsinya. Kelihatannya, Ara mulai tertarik atau mungkin ia hanya sedang berpikir apa yang selanjutnya akan diketik.
“Transportasinya kok bayar sendiri? Memang kita kesana nggak naik mobil pribadi?” tanya Karin penasaran karena biasanya mereka bertiga selalu pergi kemanapun dengan menggunakan mobil Karin atau mobil Bintang. Sedangkan Ara yang notabene-nya adalah anak rantau dari Lampung yang ngekost di Jakarta, selalu ikut kemana saja dengan mereka berdua.
“Jadi begini, kita ke Jogja nggak naik mobil pribadi tapi naik transportasi umum. Yah mungkin bisa naik bus atau kereta api. Eh tapi nggak boleh naik pesawat ya.” Bintang menerangkan rencananya.
“Oh gitu, naik kereta api seru tuh kayaknya. Tumben ide mu asyik, biasanya kan garing.” Karin seolah tak percaya dengan ide Bintang, karena mentok-mentok ide liburan Bintang paling hanya pergi ke mall, kafe, bioskop, atau taman kota untuk sekedar hunting foto.
Ara masih saja terdiam, bibirnya terkatup rapat. Matanya fokus ke arah laptopnya. Tangannya sibuk mengetik beberapa kalimat untuk skripsinya.
Karin melambaikan tangan di depan wajah Ara supaya membuyarkan tatapan fokus yang sedari tadi tertuju ke layar laptopnya. “Jadi gimana, kamu masih belum tertarik ya? Kamu sibuk ngetik mulu dari tadi.” Seketika itu Ara langsung menghentikan tangannya yang sibuk mengetik kalimat demi kalimat.
“Ya ini aku lagi lembur revisi biar besok pagi bisa diserahin ke dosen.” Ara menjawab sepotong.
“Jadi artinya kamu jadi ikut liburan?” Bintang memelototi Ara, senyumnya hampir mengembang.
“Iya.” Ara menjawab singkat. Tetapi itu sudah cukup membuat Bintang dan Karin bersorak.
“Eh memangnya kamu tau tempat wisata disana apa aja Bin? Kalau kita pakai transportasi umum memangnya nggak repot?” Akhirnya Ara mulai bicara, mengungkapkan keraguannya. Ternyata diam-diam Ara mendengarkan Bintang dan Karin bicara.
“Hm, nggak tau sih. Tapi kita bisa browsing dulu di internet untuk cari tau lokasi wisata yang bisa dijangkau transportasi umum.” Bintang bergegas mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas kasur. Meng-klik menu browser dan segera searching tempat wisata di Jogja.


Ara hanya mengangguk, menunjukkan bahwa ia meng-iya-kan semua ide Bintang. Ara kembali sibuk mengetik di laptop nya, sedangkan Karin juga mengambil handphone di saku celananya-mengikuti Bintang yang sedang sibuk browsing mengenai tempat wisata di Jogja. Bintang dan Karin lupa akan kegelisahannya mengenai cinta, mereka sibuk dengan rencana liburannya esok.
Malamnya Bintang pergi ke Indomaret untuk memesan tiket kereta Stasiun Grogol (Jakarta Barat) – Tugu Jogja (Yogyakarta). Sialnya Bintang kehabisan tiket kereta eksekutif - untungnya masih ada 3 tiket terakhir menuju stasiun Tugu Jojga - meskipun kereta yang dipesan hanya tiket kereta ekonomi AC dengan jadwal keberangkatan yang tersisa adalah pukul 09.00 WIB.

Saturday, 30 May 2015

Penjumlahan (+) Tanpa Sama Dengan (=)

Inikah lelah? Saat detik, jam, hari, bahkan tahun hanyalah sebuah hitungan penjumlahan (+) yang tanpa hasil.

Tanda tanya (?) setelah kata “lelah” bukan berarti bertanya. Tolong yakinkan, tahun mana yang harus aku berhentikan agar semua penjumlahan bilangan waktu yang aku hitung memperoleh hasil yang jelas. Aku akan tahu apakah hasilnya negatif, positif, pecahan, atau desimal. Sepertinya aku lelah menghitung waktu yang tanpa ujung ini. Aku lelah menghapus sama dengan (=), ku kira tanda tambah (+) berhenti di hari kemarin, hari ini, seterusnya dan seterusnya. Ku kira waktu tunggu ku selayaknya pasien yang sedang menunggu giliran pemeriksaan dokter. Hanya membutuhkan beberapa menit, menunggu antrian sebentar. Ternyata hingga bertahun-tahun ini, aku masih menunggu. Aku bukan lagi pasien sakit yang sedang menunggu antrian agar sembuh. Aku hanya berpura-pura sakit, namun akhirnya sakit akibat terlalu lama menunggu.

Aku lelah bermain petak umpet. Aku bukan pencari yang handal untuk pesembunyi ulung sepertimu. Kau pintar sekali mengatur dan menyimpan ruang persembunyian dengan rapi.  Sangat sulit mencari persembunyianmu di tengah keramaian manusia, kebisingan kota, kesunyian desa, bahkan bisa saja kau bersembunyi di tempat yang sebenarnya aku kenal tapi menjadi asing untuk ku. Apakah aku terlalu jauh menjamah ruang?

Dan lagi, tanda tanya (?) setelah kata “ruang” bukan berarti bertanya. Tolong beritahu, ruang mana yang seharusnya menjadi tempat persembunyianmu. Biar ku jamah, biar ku cari dengan rapi dan teliti.

Sudah berkali-kali ku buat denah untuk mencari, sendiri. Dan berkali-kali pula ku ganti kursi yang usang untuk menunggu, sendiri. Sudahkah lelah untuk bersembunyi?

Sama seperti yang ku katakan sebelumnya, tanda tanya selelah kata “bersembunyi” bukan berarti bertanya. Tolong berhenti sembunyi, aku lelah menjumlah (+), aku merindukan sama dengan (=).

(+): menunggu
(=): titik temu


*yang mengerti yang ada di dalamnya...

Friday, 10 April 2015

Perpisahan



“bukan perpisahan yang menyakitkan yang aku harapkan, tapi kebaikan buat kita”

Perpisahan mana yang tidak menyakitkan? Bukankah perpisahan selalu menyakitkan ya? Sekalipun  perpisahan hanya terjadi karena beda tempat tinggal, perpisahan karena pindah sekolah, perpisahan karena pergi jauh walaupun cuma sesaat pun semuanya sama saja kan? Menyakitkan!

Manusia mana yang tidak meneteskan air mata saat perpisahan?
bisa saja orang yang terlihat tegar berpura-pura menyembunyikan tangisannya, padahal ia sendiri meneteskan air mata dalam hati. Bukan lagi mata bengap yang ia dapatkan, tapi sesak di hati yang lebih menyakitkan. Ya, bengap hatinya.

Kebaikan? Mengapa kebaikan selalu diletakkan di akhir? Saat perpisahan?

Bukankah kebaikan seharusnya selalu ada di setiap awal, proses, serta akhir?
kasihan sekali ya, “kebaikan” selalu mendapat giliran di akhir proses.

Mungkin saat ini kebaikan cuma jadi alasan untuk mengakhiri. :)

Persimpangan

Jalan memang tak ada yang sempurna, terkadang terjal dan curam, berkelok, bahkan ada yang dihiasi batu yang tajam. Tak mungkin selalu lurus mulus beraspal. Untuk mencapai suatu tujuan yang kita inginkan, tak jarang pula dihadapkan pada sebuah persimpangan. Kita dituntut untuk memilih satu jalan di antara persimpangan tersebut. Selain itu untuk fokus terhadap tujuan, kita harus punya denah agar tak tersesat.

Sayangnya dalam perjalanan kita, aku tak punya denah. Dan saat aku telah sampai pada suatu persimpangan itu, tentu sa
ja aku kebingungan memilih arah. 

Friday, 14 February 2014

Ketika Jalan Pulang Semakin Jauh




Ketika jalan pulang semakin jauh. Mungkin rindu tak hanya duduk rapi di sudut hati, tetapi berlari menjelajahi seluruh sudut hati hingga terasa sesak. Tentunya rindu yang sebanyak itu tak mungkin tertumpuk terlalu lama di dalam hati. Tumpukan rindu itu akan terbawa angin dan hanya jemari yang sanggup meraba kehangatannya.

Ayah, ibu, semoga mereka selalu mendoakan ku dari jarak yang tiba-tiba semakin jauh ini. Terasa berat memang, bila jarak tiba-tiba menghalangi kedekatan. Seandainya jarak selebar spasi kata, mungkin rindu tak perlu berlama-lama di perjalanan.  

Semoga...

Semoga rindu tersampaikan dari jarak sejauh ini. Semoga do’a selalu terselipkan bersama rindu yang terbawa angin. Dan semoga jemari ini masih sangggup merasakan kehangatannya.